ECONOMIC ZONE - Bank Indonesia (BI) pada Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen, menandai penurunan kedua secara beruntun. Langkah ini sejalan dengan proyeksi DBS Group Research yang memperkirakan kebijakan moneter yang lebih akomodatif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Menurut ekonom senior DBS Bank, Radhika Rao, keputusan ini diambil di tengah inflasi yang terkendali dalam kisaran target BI serta stabilitas nilai tukar rupiah. “Momentum pertumbuhan ekonomi menunjukkan tanda-tanda perlambatan di paruh kedua 2025, ditambah dengan tantangan perdagangan global. Oleh karena itu, BI memilih untuk mempertahankan kebijakan yang mendorong aktivitas ekonomi,” ungkapnya.
Dinamika Ekonomi Global: Fokus pada Amerika Serikat
Ekonomi Amerika Serikat menghadapi sejumlah tantangan, termasuk inflasi yang masih tinggi, dampak tarif perdagangan, kebijakan imigrasi yang ketat, kebutuhan stimulus fiskal, serta tekanan politik terhadap The Federal Reserve (The Fed). DBS Group Research memproyeksikan perlambatan pertumbuhan ekonomi AS pada paruh kedua 2025, dengan The Fed diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin pada semester II 2025, diikuti oleh penurunan tambahan 50 basis poin pada 2026.
Dampak Tarif AS terhadap Indonesia
Indonesia relatif lebih tahan terhadap potensi tarif baru dari AS dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, meskipun ekspor utama seperti tekstil, furnitur, dan alas kaki banyak ditujukan ke pasar AS. Beberapa faktor yang mendukung ketahanan ekonomi Indonesia meliputi:
Radhika Rao menambahkan, “Keberagaman struktur ekonomi Indonesia memberikan ketahanan yang kuat dalam menghadapi tekanan eksternal, termasuk potensi tarif baru dari AS.”
Untuk memperkuat posisi ini, Indonesia disarankan untuk memperluas kesepakatan perdagangan bebas dengan mitra strategis, menghapus hambatan tarif untuk sebagian besar produk ekspor, serta memperkuat kebijakan domestik dan pengelolaan valuta asing.
Proyeksi Inflasi dan Kebijakan Moneter
Inflasi Indonesia diprediksi tetap berada dalam kisaran target BI (3–4 persen) sepanjang 2025 dan 2026. BI kemungkinan akan terus mengadopsi sikap dovish, menyesuaikan kebijakan moneter berdasarkan nilai tukar rupiah, kebijakan The Fed, dan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen. Meskipun defisit fiskal masih cukup besar, DBS Group Research optimistis bahwa defisit akan tetap di bawah 3 persen dari PDB. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat menjadi 5,4 persen pada 2026, didorong oleh perbaikan penerimaan negara.
Dengan The Fed yang juga diperkirakan melonggarkan kebijakan moneter, BI kemungkinan akan mempertahankan pendekatan akomodatif hingga akhir 2025. Pemangkasan suku bunga sebesar 100 basis poin yang telah dilakukan sepanjang tahun ini diharapkan dapat tersalurkan secara optimal ke perekonomian.
Pemulihan FDI dan Pasar Obligasi
Imbal hasil obligasi Indonesia menunjukkan tren penurunan seiring ekspektasi pemangkasan suku bunga lebih lanjut. Permintaan obligasi, terutama pada tenor pendek hingga menengah, meningkat berkat surplus likuiditas dan minat investor terhadap instrumen berimbal hasil tinggi. Penurunan imbal hasil obligasi 10 tahun juga terobservasi, meskipun lebih lambat dibandingkan tenor lainnya.
Kondisi likuiditas yang memadai dan ekspektasi kebijakan moneter yang akomodatif mendukung pasar obligasi domestik. Aliran modal asing (FDI) yang sempat melambat diperkirakan akan pulih pada paruh kedua 2025, seiring stabilisasi rupiah dan penurunan suku bunga lebih lanjut.
Menurut Maynard Arif, Equities Specialist DBS Group Research, pasar saham Indonesia menunjukkan pergeseran menuju saham-saham berkapitalisasi besar yang lebih tahan terhadap volatilitas global. Meskipun indeks LQ45 dan IDX30 belum mencatat kinerja optimal hingga Juli 2025, valuasi pasar Indonesia tetap menarik dibandingkan negara-negara Asia lainnya, memberikan peluang bagi investor yang mencari stabilitas dan potensi pertumbuhan.
Nilai tukar USD/IDR telah mengalami koreksi signifikan dalam beberapa bulan terakhir setelah mencapai puncaknya, sejalan dengan dinamika pasar global dan ekspektasi kebijakan The Fed. DBS Group Research memprediksi bahwa USD/IDR akan mengalami konsolidasi dalam jangka pendek, mencerminkan stabilitas pasar dan adaptasi terhadap kondisi ekonomi domestik serta global.
DBS Global Financial Markets menyediakan solusi keuangan terintegrasi untuk membantu investor mengelola risiko fluktuasi suku bunga, nilai tukar, dan tarif perdagangan. Dengan analisis pasar yang mendalam dan layanan konsultasi investasi, DBS membantu klien mengambil keputusan yang lebih terinformasi di tengah dinamika ekonomi global.
“Pergerakan USD/IDR saat ini dipengaruhi oleh kompleksitas pasar global. Dengan strategi yang tepat, investor dapat memanfaatkan peluang sekaligus mengelola risiko volatilitas,” ujar Muchammad Suryanatakusumah, Executive Director & Head of Sales Global Financial Markets PT Bank DBS Indonesia.
Komentar