Endang Muchtar
Rabu, 03 Juni 2026 - 14:32 WIB

Biaya Material Bangunan Melonjak Pasokan Rumah Subsidi Berpotensi Terancam

Foto/Endang Muchtar/ECONOMICZONE
Foto/Endang Muchtar/ECONOMICZONE
Dummy

ECONOMIC ZONE - Ekosistem bisnis rumah subsidi menghadapi tantangan baru seiring dengan melonjaknya harga material konstruksi di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (22/5/2026). Posisi dolar AS melemah 0,17% dan berada di posisi Rp 17.697 per dolar AS. Analis mata uang dari Doo Financial, Lukman Leong memperkirakan rupiah akan berkonsolidasi terhadap dolar AS.“Investor wait and see rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I-2026 Indonesia. Investor juga masih mengantisipasi respon Iran terhadap proposal AS yg terbaru,” kata Lukman, Jumat (22/5/2026).

Kenaikan harga besi, baja, dan bahan bakar minyak (BBM) mendorong pengembang menyuarakan usulan agar pemerintah mengerek harga rumah subsidi yang dinilai sudah tidak relevan.

Data Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB) menunjukkan inflasi tertinggi terjadi pada kelompok Bangunan Tempat Tinggal dan Bukan Tempat Tinggal yang mencapai 5,93 persen secara tahunan (year-on-year). Angka ini jauh melampaui tingkat inflasi nasional yang berada di level 2,42 persen.

Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa harga material dan kebutuhan konstruksi meningkat lebih cepat dibandingkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Lonjakan harga terutama terjadi pada komponen penting pembangunan rumah, seperti produk berbahan aluminium, instalasi kelistrikan, serta berbagai material pendukung lainnya.

Tenaga Ahli Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Harry Endang Kawidjaja mengungkapkan kenaikan harga material bangunan mulai menekan pengembang rumah subsidi di tengah melemahnya kurs rupiah dan kenaikan biaya konstruksi. Harga rumah subsidi perlu naik minimal 10% untuk menjaga margin keuntungan pengembang.

Dia menyebut, banyak pengembang telah meminta penyesuaian harga rumah subsidi karena kenaikan biaya bangunan mencapai sekitar 20%. “Sudah banyak (developer) yang teriak naik, karena peningkatannya itu sekitar 20% di bangunan saja,” kata Harry saat ditemui di Kemang, Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).

Menurut dia, kenaikan tertinggi terjadi pada material alam, seperti pasir dan batu yang melonjak 50%. “Yang paling tinggi di material alam ya, sampai 50% — pasir, batu. Secara rata-rata sih naik di bangunan tuh 20%,” papar Harry.

Harry menjelaskan, kenaikan tersebut dipicu sejumlah faktor, mulai penutupan tambang bermasalah dan moratorium pembangunan perumahan di kawasan rawan banjir di Jawa Barat oleh Gubernur Dedi Mulyadi (KDM), hingga kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan upah pekerja. “Nah salah satunya kan KDM memberhentikan (tambang dan pembangunan perumahan). Terus minyak naik, solar naik, (gaji) pekerja naik,” terangnya.

Harry memperkirakan harga rumah subsidi perlu naik minimal 10% untuk menjaga margin keuntungan pengembang. “Ya, harusnya minimal 10% untuk menjaga profit margin-nya,” katanya.

Dikatakan Harry, bila harga rumah subsidi tidak disesuaikan, margin pengembang akan semakin tipis dan berpotensi membuat pengembang beralih ke proyek non-subsidi. “Kalau dibiarkan profit-nya terlalu tipis, nanti banyak pengembang yang beralih. Nah itu akan mengurangi realisasi (KPR FLPP),” katanya.

Ia menilai realisasi pembangunan rumah subsidi tahun ini masih tertinggal dari target. Dari realisasi KPR FLPP 278.800 unit pada 2025, realisasi saat ini baru sekitar 61.000 unit dalam empat bulan pertama tahun 2026. “Kalau dikali tiga (bulan) baru 180.000 unit. Walaupun ujung-ujung mungkin meningkat. Mungkin hanya 220.000 kalau bisnis seperti biasa,” imbuh Harry.

Menurut dia, tanpa penyesuaian kebijakan, realisasi pembangunan rumah subsidi sulit mencapai target. Harry menuturkan, pengembang memiliki opsi lain selain menaikkan harga, yakni mengurangi ukuran rumah. “Nanti arahnya yang satu ngecilin unit, size, ukuran,” katanya.

Dia mengakui opsi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas rumah subsidi, meski konsumen kini dinilai semakin kritis dalam membandingkan produk perumahan. “Kemungkinan (penurunan kualitas rumah) itu juga terjadi, tapi sekarang kan pembeli sudah sangat-sangat pinter ya. Jadi mereka akan membandingkan,” kata Harry.

Harry menambahkan, tekanan biaya konstruksi berbeda di tiap wilayah. Di Serang, kata dia, kompetisi antar-pengembang masih membuat harga jual relatif tertahan. Namun di wilayah penyangga Jakarta seperti Tangerang, Bogor, dan Bekasi, harga lahan dan material sudah lebih mahal. “Jawa Barat terutama, karena Jawa Barat itu material alamnya kepukul dua kali,” tandasnya.

Harry mengatakan banyak pengembang di Jawa Barat mulai bergeser ke wilayah Jawa Tengah, seperti Brebes akibat kenaikan harga material dan terbatasnya pasokan. “Sekarang beli material perumahan Jawa Barat, terutama Bogor, rata-rata belinya ke Banten, ke Cilegon, ke Bojonegara,” ujar Harry.

Menurut Harry, perpindahan permintaan material dari Jawa Barat ke Banten turut memicu kenaikan biaya logistik dan harga material di daerah pemasok. “Yang Jawa Barat sudah berebut, jauh pula nganternya. Biaya logistik jadi tinggi, mungkin itu yang bisa (naik biaya material alamnya) sampai 50%,” katanya.

 

 

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
18/09/2026 13:34 WIB
MELALUI 4 (EMPAT) PROGRAM MANFAAT UTAMA, ASABRI BAYARKAN HAK PESERTA LEBIH DARI RP12,7 TRILIUN; ASABRI HADIR DI SETIAP TAHAP PENGABDIAN, MENJAGA AMANAH NEGARA DAN KESEJAHTERAAN PESERTA
PT ASABRI (Persero) terus menjalankan amanah dalam memberikan perlindungan sosial kepada peserta ASABRI sebagai bagian dari penghargaan negara atas pengabdian kepada bangsa dan negara
 
Nasional
16/09/2026 19:06 WIB
5 Tahun Beroperasi, blu by BCA Digital Dongkrak Lonjakan Transaksi Gaya Hidup dan Pembayaran Global
Pertumbuhan ini digerakkan oleh porsi demografi anak muda yang sangat dominan, di mana 56% nasabah blu merupakan Gen Z dan 35% merupakan Milenial (total 91% digital natives). Laju akuisisi nasabah baru pun dipimpin oleh Gen Z dengan pertumbuhan 30% YoY, disusul Milenial sebesar 20%…
 
Nasional
15/09/2026 08:07 WIB
Telkom Solution Raih Penghargaan Business Impact & Industry Growth untuk Market B2B ICT di Indonesia
Penghargaan KGI tegaskan kontribusi Telkom Solution bagi transformasi digital di berbagai Industri.
 
Nasional
14/09/2026 22:02 WIB
Dorong Predictive Cyber Intelligence, MDI Ventures Sabet Indonesia Cyber Security Excellence Award 2026
Investasi strategis di CYFIRMA perluas kolaborasi solusi keamanan siber yang inovatif di Indonesia.
 
Nasional
13/09/2026 18:13 WIB
Sequis SHEPRENEUR Gelar SHElebration, Rayakan Semangat dan Perjalanan 60 Perempuan Wirausaha
SHElebration menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada 60 perempuan wirausaha sekaligus merayakan pencapaian TOP 3 SHEPRENEUR 2026
 
Nasional
11/09/2026 17:59 WIB
TelkomGroup Dorong Gaya Hidup Berkelanjutan melalui Zero Plastic Movement
Sediakan fasilitas water refill station bagi karyawan dan perkuat kolaborasi komunitas hingga pelaku usaha.
 
Nasional
10/09/2026 21:55 WIB
Raih Golden Trophy dan The Most Committed GRC Leader 2026, Telkom Akses Perkuat Tata Kelola, Manajemen Risiko, Kepatuhan, dan ESG
Pertahankan predikat Bintang 5 tiga tahun berturut-turut, tegaskan komitmen GRC sebagai fondasi keberlanjutan bisnis.
Ad Placholder