ECONOMIC ZONE - PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat kinerja positif pada semester I 2025 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp1,18 triliun, angka ini naik 8 persen dibandingkan capaian pada periode yang sama tahun 2024 yang sebesar Rp1,10 triliun.
"Laba bersih semester I tahun ini sekitar Rp1,18 triliun, naik 8 persen dibanding dengan semester I tahun 2024," jelas Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, dikutip Ranu (20/8). Di rangkum financialreview.id
Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh peningkatan pendapatan serta efisiensi operasional perusahaan. Tercatat, pendapatan KAI mencapai Rp16,83 triliun atau naik 2 persen dibandingkan semester I 2024 yang sebesar Rp16,58 triliun. Sementara itu, EBITDA naik signifikan 18 persen menjadi Rp4 triliun dari sebelumnya Rp3,45 triliun.
Dari sisi kewajiban negara, KAI telah menyetorkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sebesar Rp900 miliar. Pencapaian ini diperkirakan akan melampaui target hanya dalam waktu 4,5 bulan ke depan. Selain itu, perusahaan juga berkontribusi melalui pembayaran pajak sekitar Rp3,5 triliun sepanjang periode tersebut.
"Kita masih punya 4,5 bulan ke depan untuk melampaui itu. Dan kalau kita lihat juga untuk yang pajaknya itu sekitar Rp3,5 triliun," tambah Bobby.
Menanggapi capaian KAI, Menko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa transportasi perkeretaapian memiliki peran penting dalam mendukung target pemerintah menuju nol emisi karbon pada 2060.
Berdasarkan laporan Asian Transport Outlook 2024, emisi CO2 dari sektor transportasi masih didominasi oleh moda jalan yang mencapai 89,7 persen, diikuti transportasi laut sebesar 5,5 persen, udara 4,8 persen, sementara transportasi kereta api nyaris tidak menghasilkan emisi. Hal ini membuat kereta api berpotensi menjadi moda transportasi masa depan yang ramah lingkungan.
Meski demikian, sektor perkeretaapian di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan. Pemerintah menekankan perlunya revitalisasi infrastruktur, elektrifikasi jalur kereta, serta perbaikan lebih dari 75 jembatan yang telah berusia lebih dari 100 tahun. Sejalan dengan itu, pemerintah menegaskan bahwa transportasi akan tetap menjadi prioritas pembangunan nasional.
Pembangunan jaringan transportasi, termasuk kereta api, terus digencarkan untuk memperkuat konektivitas dari Sumatera hingga Papua. Langkah ini tidak hanya bertujuan mempermudah mobilitas barang dan orang, tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerataan pembangunan daerah, dan keberlanjutan lingkungan.
Komentar