ECONOMIC ZONE - Kebutuhan terhadap tenaga profesional di bidang project management terus meningkat seiring semakin kompleksnya proyek di berbagai sektor industri. Menjawab kebutuhan tersebut, BINUS University melalui BINUS Business School (BBS) meluncurkan program baru Master of Management (MM) in Transformative Project Management (TPM) yang dirancang untuk menghasilkan profesional project management dengan kemampuan manajerial, kepemimpinan, dan pemikiran strategis.
Peluncuran program ini merupakan hasil kajian BINUS Business School bersama berbagai pemangku kepentingan untuk melihat kesenjangan antara kebutuhan industri dan kompetensi project management yang tersedia saat ini. Isu tersebut menjadi pembahasan dalam kegiatan Sharing Session & Panel Discussion bertajuk ‘The Transformative Role of Project Management’ yang mempertemukan perspektif akademik, asosiasi profesi, dan industri.
Forum tersebut menghadirkan perwakilan dari sejumlah organisasi profesi, yakni Project Management Institute (PMI) Indonesia oleh Achmad Fuad Bay selaku Presiden PMI Indonesia; Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia (IAMPI) oleh Khrisna Suryanto Pribadi selaku Ketua Umum IAMPI; PRINCE2 Indonesia oleh Adi Prasetyo selaku Presiden PRINCE2 Indonesia; dan PMO Indonesia oleh Sachlani selaku Chairman PMO Indonesia; serta perwakilan industri melalui
PT MRT Jakarta (Perseroda) oleh Weni Maulina selaku Director of Construction.
Keterlibatanberbagai pemangku kepentingan ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan perspektif akademik dan kebutuhan industri dalam pengembangan kompetensi project management di Indonesia.
Dr. Asnan Furinto, Dekan BINUS Business School Master Program, mengungkapkan bahwa kehadiran MM Transformative Project Management berangkat dari kesenjangan kompetensi yang masih ditemui di lapangan. “Selama ini, banyak talenta di lapangan yang piawai secara teknis, tetapi belum banyak yang
memiliki fondasi akademik setara S-2 sekaligus sertifikasi profesi berskala internasional. Kami ingin mengisi celah ini,” ujarnya.
Kebutuhan terhadap talenta project management juga tercermin dari proyeksi global. Project Management Institute (PMI) memproyeksikan dunia membutuhkan sekitar 65 juta pemimpin proyek baru hingga 2035. Sementara itu, pertumbuhan tenaga kerja di bidang project management diperkirakan hanya mencapai sekitar 2,5 juta orang per tahun, sehingga berpotensi menimbulkan kesenjangan sekaligus kerugian ekonomi global hingga US$345,5 miliar.
Di Indonesia, kesenjangan talenta project management diproyeksikan mencapai 540–691 ribu orang pada 2035, atau meningkat sekitar 52,8%–69,4% dibandingkan kondisi saat ini.
Pertumbuhan kebutuhan terhadap kompetensi tersebut juga tercermin dari meningkatnya jumlah anggota PMI Indonesia Chapter, dari sekitar 1.014 orang pada awal 2023 menjadi 4.140 orang pada awal 2026.
Melihat kondisi tersebut, MM Transformative Project Management dirancang dengan pendekatan yang berbeda dari program manajemen proyek yang umumnya berangkat dari disiplin ilmu teknik. Program ini menempatkan manajemen sebagai fondasi utama, sehingga kompetensi yang
dikembangkan dapat diterapkan secara lintas industri.
“Kami membangun program ini di atas fondasi disiplin manajemen, bukan teknik. Dengan begitu, lulusan kami bisa masuk ke industri apa pun yang membutuhkan keahlian project management, bukan hanya konstruksi atau infrastruktur seperti yang biasa ditawarkan oleh program sejenis,”
kata Dr. Asnan.
Selain membangun kemampuan manajerial dan kepemimpinan, program MM TPM juga dirancang selaras dengan jalur sertifikasi profesi berstandar global. Dengan pendekatan tersebut, mahasiswa dapat memperoleh pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan sertifikasi tanpa harus menunggu hingga menyelesaikan studi untuk mulai mempersiapkannya. “Mahasiswa kami tidak perlu menyisihkan waktu belajar tambahan setelah lulus untuk mengejar
sertifikasi. Kurikulumnya sudah dirancang selaras sejak awal,” jelas Dr. Asnan.
Sebagai bagian dari kolaborasi strategis dengan ekosistem profesi project management, mahasiswa MM TPM juga berpeluang memperoleh harga khusus untuk mengikuti ujian sertifikasi dibandingkan tarif publik bagi peserta non anggota. Menurut Dr. Asnan, skema tersebut menjadi
salah satu nilai tambah bagi mahasiswa mengingat biaya sertifikasi internasional yang relatif
tinggi.
Kehadiran MM Transformative Project Management sekaligus melengkapi rangkaian program magister yang ditawarkan BINUS Business School, di antaranya MM Blended Learning dan MM Executive in Strategic Management. Program baru ini juga memperkuat komitmen BBS dalam menghadirkan pendidikan manajemen yang relevan dengan perkembangan kebutuhan industri dan profesi.
Dalam QS Global MBA Rankings 2026, program MBA BINUS Business School tercatat berada pada peringkat #1 di Indonesia dan #23 di Asia.
“Program baru ini adalah salah satu perwujudan komitmen BINUS Business School untuk terus memberi kontribusi kepada perkembangan dunia industri melalui tiga pilar: Inovasi, Transformasi Digital, dan Sustainability. Harapan kami sederhana, lulusan MM Transformative Project Management bisa menjadi orkestrator proyek yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki kapasitas kepemimpinan dan pemikiran strategis untuk membawa perubahan di
organisasi masing-masing,” tutup Dr. Asnan.
Komentar