ECONOMIC ZONE - Emiten konstruksi, PT PP Presisi Tbk (PPRE) sepanjang 2017 membukukan laba bersih konsolidasi mencapai Rp245 miliar, meonjak 498 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp41 miliar.
Direktur Utama PP Presisi, Iswanto Amperawan dalam keterangannya di Jakarta, Senin (12/3) mengatakan lonjakan laba bersih tersebut seiring peningkatan pendapatan konsolidasi sebesar 389 persen dari Rp371 miliar menjadi Rp1,8 triliun di 2017.
"Ini didukung meningkatnya pendapatan civil work sebesar 617 persen year on year dari Rp197 miliar menjadi Rp1,4 triliun di 2017, diantaranya berasal dari proyek tol Bakauheni-Sidomulyo, proyek tol Pandaan–Malang, proyek tol Manado–Bitung, proyek bendungan Way Sekampung, proyek bendungan Leuwi Keris, proyek pengendalian lahar Sinabung, dan beberapa proyek carry over dari tahun sebelumnya," katanya.
Selain itu pendapatan perseroan juga ditopang kenaikan signifikan pendapatan ready mix/batching plant sebesar 138 persen dari Rp69 miliar meningkat menjadi Rp163 miliar di 2017.
Peningkatan pendapatan tersebut juga diikuti keberhasilan perseroan mengelola beban pokok penjualan dan biaya operasional secara simultan sehingga berhasil membukukan pertumbuhan laba kotor dan laba operasi secara signifikan masing-masing sebesar 369 persen dan 379 persen.
"Kami bangga terhadap pencapaian PP Presisi di 2017, transformasi bisnis yang dilakukan sejak tahun 2014 telah membuahkan hasil, tercermin dari peningkatan pendapatan dan laba bersih secara signifikan," terangnya.
Adapun rasio lancar mengalami peningkatan dari 0,8X (2016) menjadi 1,9X (2017) seiring peningkatan kas dan setara kas sebagai imbas dari peningkatan cashflow operasional dari Rp110 miliar (2016) menjadi Rp351 miliar (2017) dan dana hasil penawaran umum perdana saham yang dilakukan 24 November 2017 yang belum digunakan sebesar Rp783 miliar, di samping peningkatan piutang usaha dari Rp101 miliar (2016) menjadi Rp602 miliar (2017) yang sebagian besar (58%) merupakan piutang lancar.
Gearing rasio mengalami penurunan dari 2,9X (2016) menjadi 0,6X (2017), demikian juga net-gearing rasio mengalami penurunan dari 1,9X (2016) menjadi 0,2X (2017) sebagai akibat dari peningkatan ekuitas sebesar 1.051 persen dari Rp211,9 miliar (2016) menjadi Rp2,4 triliun (2017).
Komentar