ECONOMIC ZONE - Pemerintah menyebut perekonomian Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah gejolak ekonomi global, mulai dari ketidakpastian geopolitik, tingginya suku bunga global, hingga volatilitas pasar keuangan.
Hingga 31 Agustus 2026, pendapatan negara tercatat tumbuh 25,4%, dengan penerimaan pajak melonjak 24,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Di sisi belanja, realisasi tumbuh 17,1%, sementara belanja kementerian/lembaga mencapai Rp912,4 triliun, atau tumbuh 33%.
“APBN-nya berjalan on track, tapi tetap dengan kehati-hatian yang tinggi,” ujar Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam jumpa pers pemaparan kondisi ekonomi dan APBN (APBN KITA) di Kementerian Keuangan Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Ketahanan ekonomi juga tercermin dari pertumbuhan ekonomi semester I 2026 yang mencapai 5,45%. Inflasi Agustus berada di level 3,19%, masih dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5% plus-minus 1%.
“Angka-angka itu cukup memberikan confidence kepada kita bahwa perekonomian Indonesia itu stay resilient,” katanya.
Meski demikian, pemerintah tidak menutup mata terhadap tekanan eksternal. Rupiah secara year-to-date berada di sekitar Rp17.415 per dolar AS, lebih lemah dibandingkan asumsi APBN sebesar Rp16.500. Harga minyak mentah Indonesia juga mencapai US$89,2 per barel, jauh di atas asumsi APBN US$70 per barel.
Kondisi pasar keuangan juga masih menjadi perhatian. Hingga 11 September 2026, akumulasi arus modal masuk mencapai Rp141,6 triliun. Aliran dana ke Surat Berharga Negara (SBN) tercatat Rp40,8 triliun, sementara pasar saham masih mengalami outflow Rp70,7 triliun.
Pemerintah menilai kredibilitas pasar keuangan menjadi salah satu kunci untuk mendorong arus modal kembali masuk ke Indonesia.
“Kalau pasar saham kita kredibel, maka para investor akan lebih yakin untuk membeli saham-saham Indonesia,” ujar Suahasil.
Di tengah dinamika tersebut, pemerintah terus mencermati pergerakan harga komoditas seperti minyak, CPO, nikel, batu bara, emas, dan tembaga karena perubahan harganya dapat memengaruhi penerimaan sekaligus belanja negara.
Pemerintah menegaskan APBN akan terus digunakan sebagai instrumen untuk mengantisipasi dampak gejolak global sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik.
“Kita harus waspadai, kita tidak boleh lengah, tapi Indonesia kondisi ekonominya cukup resilient. Malah saya bisa katakan sangat resilient.”
Komentar