Endang Muchtar
Kamis, 21 Mei 2026 - 15:34 WIB

Indonesia Hadapi Geopolitik, Perkuat Kolaborasi Jaga Ketahanan Energi Nasional

Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza , menjawab pertanyaan peserta  pada sesi Global Executive Talk “The End Of Easy Energy”  50th IPA Convex, di ICE BSD, Tangsel, Rabu (20/5/2026). (Foto/dok. Pertamina/ECONOMICZONE)
Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza , menjawab pertanyaan peserta  pada sesi Global Executive Talk “The End Of Easy Energy”  50th IPA Convex, di ICE BSD, Tangsel, Rabu (20/5/2026). (Foto/dok. Pertamina/ECONOMICZONE)
Dummy

ECONOMIC ZONE - Di tengah gejolak geopolitik dan geoekonomi global yang terus bergerak dinamis, Pemerintah Indonesia bersama Pertamina mempertegas komitmen untuk memperkuat kolaborasi demi menjaga ketahanan energi nasional. Langkah ini dinilai semakin penting ketika ketidakpastian global tak hanya memengaruhi negara-negara yang tengah berkonflik, tetapi juga merembet ke hampir seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, kondisi geopolitik, geoekonomi, dan ketegangan politik dunia saat ini telah menciptakan situasi yang serba tidak pasti. Menurut dia, arah perkembangan global kini menjadi semakin sulit diprediksi.

“Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara yang sedang bertikai, tapi hampir semua negara, bahkan hampir semua rakyat dunia, termasuk di Indonesia. Tetapi Indonesia harus saya sampaikan bahwa dari kondisi geopolitik-geoekonomi yang tidak menentu, tumbuh ekonomi pada kuartal pertama,” kata Bahlil pada pembukaan IPA Convex ke-50 yang berlangsung di Ice BSD City pada 20-22 Mei 2026.

Bahlil menambahkan, hampir semua negara saat ini cenderung lebih fokus melindungi kepentingan masing-masing, baik negara yang memiliki sumber minyak maupun yang tidak memilikinya. Dalam situasi seperti itu, Indonesia dinilai perlu bergerak cepat mencari alternatif energi agar tidak hanya bergantung pada bahan bakar fosil, terutama ketika lifting migas belum mencapai target.

“Namun kami bersyukur bahwa dalam kondisi seperti ini, atas arahan Presiden, harus segera mencari alternatif-alternatif energi lain yang tidak hanya mengedepankan BBM yang bersumber dari fosil. Ketika lifting kita tidak tercapai, maka harus ada cara lain yang kita harus lakukan,” jelasnya.

Pandangan serupa juga disampaikan Pertamina. Perusahaan energi nasional itu menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika industri energi global yang semakin kompleks. Situasi ini disebut dipicu oleh berakhirnya era easy energy, meningkatnya tensi geopolitik, serta gangguan rantai pasok global yang masih membayangi.

Meski tantangan terus muncul, Pertamina tetap memandang situasi ini dengan optimisme. Penguatan kolaborasi strategis, percepatan penerapan teknologi, dan peningkatan produksi energi domestik dinilai menjadi tiga pilar penting untuk menjaga kesinambungan pasokan energi nasional.

Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza, mengatakan Indonesia sejatinya masih memiliki ruang peluang yang besar di sektor energi, termasuk untuk investor, pelaku industri, maupun regulator.

“Pada dasarnya, memang era easy energy sudah berlalu. Namun jika kita melihat lebih jauh, khususnya di Indonesia, kita masih memiliki peluang yang sangat besar. Jadi, bagi para investor, praktisi industri energi, maupun regulator, Indonesia menawarkan begitu banyak peluang yang dapat dikembangkan,” ujarnya.

Dalam paparannya pada sesi Global Executive Talk bertema “The End of Easy Energy: The New Reality of Oil and Gas”, Oki juga menyoroti potensi gangguan pasokan energi global akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi dunia. Situasi itu dinilai dapat memicu volatilitas harga energi sekaligus memengaruhi stabilitas pasokan global.

Menurut Oki, peran Pertamina sangat strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional dengan memastikan energi tetap tersedia, terjangkau, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia. Karena itu, strategi Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan diversifikasi impor dan pengelolaan pasokan jangka pendek, tetapi juga harus ditopang peningkatan produksi minyak dan gas di dalam negeri.

“Hal pertama yang kami lakukan adalah meningkatkan dan memaksimalkan produksi domestik minyak dan gas,” katanya.

Selain memperkuat produksi nasional, Oki menilai kolaborasi menjadi kunci penting untuk menghadapi tantangan industri energi yang kini semakin kompleks dan penuh risiko. Ia menyebut kemitraan memungkinkan perusahaan saling berbagi keahlian dan pengetahuan untuk menekan risiko bisnis. Saat ini, Pertamina juga telah menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah perusahaan energi global.

“Kami membutuhkan partnership. Kami memiliki banyak perusahaan mitra yang sangat andal,” katanya.

Di sisi lain, Oki menilai koordinasi dengan pemerintah juga menjadi elemen penting untuk menjaga keberlanjutan investasi di sektor energi. Dalam kondisi ketika tingkat pengembalian investasi atau rate of return masih terbatas, dukungan pemerintah dibutuhkan dalam bentuk perpanjangan masa kontrak, penyesuaian skema bagi hasil, maupun pemberian insentif fiskal.

Pemanfaatan teknologi juga dipandang semakin krusial untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko operasional. Oki mencontohkan bagaimana perusahaan energi global mulai mengandalkan supercomputer dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendukung eksplorasi dan menghasilkan keputusan yang lebih presisi.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Indonesia dinilai tetap memiliki peluang yang besar dalam pengembangan sektor energi, termasuk migas nonkonvensional dan enhanced oil recovery (EOR). Untuk memaksimalkan potensi tersebut, Pertamina mendorong pengembangan teknologi produksi serta optimalisasi lapangan eksisting melalui berbagai pendekatan, termasuk chemical enhanced oil recovery dan optimalisasi sumur produksi.

“Indonesia memiliki peluang yang sangat besar. Jadi, bagi para investor, engineer, maupun regulator, Indonesia menawarkan begitu banyak peluang yang dapat dikembangkan,” tutupnya.

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
24/08/2026 19:19 WIB
Laba BTN Melesat hingga Juli 2026, Kontribusi Sosial Terus Diperkuat
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) melanjutkan pertumbuhan kinerja positif hingga Juli 2026, sekaligus memperkuat kontribusinya bagi masyarakat. Perseroan bersama entitas anak, Bank Syariah Nasional (BSN), membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp2,51 triliun
 
Nasional
24/08/2026 19:16 WIB
TelkomGroup Salurkan Bantuan Kemanusiaan Hingga Rp1,3 Miliar untuk Masyarakat Terdampak Gempa NTT
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) bersama operating company TelkomGroup menyalurkan bantuan kemanusiaan dengan nilai mencapai Rp1,3 miliar (di luar dukungan konektivitas) bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT)
 
Nasional
23/08/2026 13:44 WIB
Berburu Promo di wondrX 2026, Pengunjung Dapat Diskon Sepatu hingga 40%
BNI wondrX 2026 berlangsung pada 21–23 Agustus 2026 di Hall 5–10 ICE BSD dan menghadirkan beragam penawaran untuk kebutuhan belanja, perjalanan, kuliner, properti, otomotif, hingga layanan finansial
 
Nasional
23/08/2026 10:09 WIB
BNI Hadirkan wondrZ, Tabungan Anak dan Remaja untuk Belajar Kelola Keuangan Sejak Dini
BNI memperluas layanan perbankan bagi keluarga melalui wondrZ, tabungan khusus anak dan remaja yang dapat diakses melalui aplikasi wondr by BNI.
 
Nasional
22/08/2026 17:31 WIB
wondrX 2026 Jadi Pre-Event Danantara Housing Expo, BNI Perluas Akses Pembiayaan Hunian
BNI menghadirkan area property dalam gelaran BNI wondrX 2026 di ICE BSD
 
Nasional
22/08/2026 15:18 WIB
CIMB Niaga Gelar Tour de Bank (TDB) untuk Dukung Puncak Bulan Literasi Keuangan OJK 2026
Sejalan dengan kegiatan ini, CIMB Niaga menggelar edukasi yang ditujukan bagi siswa SD melalui program TDB, serta Program Ayo Menabung dan Berbagi (AMDB) untuk siswa SMP.
 
Nasional
22/08/2026 13:11 WIB
Deretan Musisi Ramaikan wondrX 2026 di ICE BSD
BNI menghadirkan deretan musisi Tanah Air dalam gelaran wondrX 2026 di ICE BSD
Ad Placholder