Endang Muchtar
Kamis, 06 Agustus 2026 - 14:34 WIB

Piala Dunia 1938: Ketika Italia Mengangkat Trofi, Hindia Belanda Membuka Jalan bagi Indonesia (3)

Foto/ilustrasi AI/ECONOMICZONE
Foto/ilustrasi AI/ECONOMICZONE
Dummy

ECONOMIC ZONE - Tahun 1938 menjadi salah satu babak paling bersejarah dalam perjalanan sepak bola dunia. Di Prancis, turnamen Piala Dunia ketiga digelar di tengah situasi politik Eropa yang semakin memanas. Hanya beberapa bulan sebelum Perang Dunia II pecah, negara-negara terbaik berkumpul untuk memperebutkan trofi paling bergengsi dalam dunia sepak bola. 

Pada akhir turnamen, Italia keluar sebagai juara setelah menaklukkan Hungaria dengan skor 4–2 di partai final. Gelar tersebut menjadi trofi Piala Dunia kedua secara beruntun bagi Gli Azzurri setelah keberhasilan mereka pada edisi 1934. Di bawah arahan pelatih Vittorio Pozzo, Italia menjelma menjadi kekuatan terbesar sepak bola dunia pada masanya. 

Namun, di balik gemerlap pesta kemenangan Italia, tersimpan sebuah kisah yang tak kalah penting bagi bangsa Indonesia.

Di turnamen yang sama, sebuah tim dari wilayah yang masih bernama Hindia Belanda melangkah ke panggung Piala Dunia untuk pertama kalinya. Meskipun datang sebagai tim yang tidak diunggulkan, kehadiran mereka mencatatkan sejarah yang hingga kini belum mampu diulang oleh negara Asia Tenggara lainnya.

Perjalanan Hindia Belanda menuju Prancis memang tidak biasa. Jepang yang semula menjadi wakil Asia mengundurkan diri akibat Perang Tiongkok-Jepang, sementara Amerika Serikat juga memilih tidak mengikuti kualifikasi. Situasi tersebut membuka jalan bagi Hindia Belanda untuk tampil sebagai wakil Asia pertama di putaran final Piala Dunia.

Perjalanan menuju Eropa sendiri merupakan tantangan besar. Para pemain harus berlayar selama berminggu-minggu melintasi Samudra Hindia dan Terusan Suez sebelum akhirnya tiba di Prancis. Bagi sebagian besar dari mereka, inilah kali pertama menginjakkan kaki di benua Eropa.

Skuad Hindia Belanda dipimpin oleh Achmad Nawir, seorang mahasiswa kedokteran yang kemudian dikenal sebagai dokter. Bersama rekan-rekannya seperti Sutan Anwar, Tan Mo Heng, Tan Hian Goan, Anwar St. Pamoentjak, Soedarmadji, Frans Sommers, Piet Stol, dan Basuki, mereka membawa harapan sebuah negeri yang saat itu belum merdeka.

Sayangnya, undian langsung mempertemukan mereka dengan Hungaria, salah satu tim terkuat di dunia. Format Piala Dunia saat itu menggunakan sistem gugur. Artinya, satu kekalahan saja berarti perjalanan selesai.

Pada 5 Juni 1938 di Stadion Stade Vélodrome Municipal, Reims, Hindia Belanda menghadapi Hungaria. Perbedaan kualitas dan pengalaman terlihat jelas sepanjang pertandingan. Hungaria menang telak 6–0 dan melaju ke babak berikutnya.

Namun kisah Hungaria belum berakhir.

Mereka terus melangkah hingga mencapai partai final dan bertemu Italia. Di laga puncak itulah Italia menunjukkan kelasnya sebagai penguasa sepak bola dunia. Dengan kemenangan 4–2 atas Hungaria, Italia mempertahankan gelar juara dunia yang sebelumnya diraih pada tahun 1934.

Menariknya, tim yang mengakhiri perjalanan Hindia Belanda ternyata hanya kalah dari sang juara dunia. Fakta ini menunjukkan betapa beratnya lawan yang harus dihadapi wakil Asia tersebut sejak pertandingan pertama. 

Meski hanya bermain selama 90 menit dan pulang tanpa mencetak gol, Hindia Belanda telah mengukir sejarah yang jauh lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan. Mereka menjadi tim Asia pertama yang tampil di putaran final Piala Dunia FIFA, sekaligus menjadi cikal bakal perjalanan Indonesia di panggung sepak bola dunia.

Lebih dari delapan dekade telah berlalu. Italia dikenang sebagai juara Piala Dunia 1938, sementara Hungaria dikenang sebagai finalis yang tangguh. Namun bagi Indonesia, kenangan terbesar dari turnamen itu bukanlah siapa yang mengangkat trofi, melainkan keberanian sebelas pemain dari Nusantara yang menempuh ribuan kilometer demi membawa nama Hindia Belanda ke panggung sepak bola terbesar di dunia.

Mereka memang tidak pulang membawa medali atau piala. Namun mereka membawa sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah warisan sejarah. Warisan yang mengingatkan bahwa jejak pertama Indonesia di Piala Dunia telah dimulai sejak tahun 1938, ketika Italia berdiri di puncak dunia dan Hindia Belanda membuka lembaran pertama sepak bola Indonesia di panggung internasional.

Piala Dunia 1950: Tragedi Maracanã dan Kisah Pilu Kiper yang Tak Pernah Terlupakan

Tahun 1950 menjadi salah satu bab paling dramatis dalam sejarah Piala Dunia. Setelah dunia melewati masa kelam Perang Dunia II, sepak bola akhirnya kembali hadir sebagai simbol harapan dan kebahagiaan. Brasil dipercaya menjadi tuan rumah, dan seluruh negeri ingin menjadikan turnamen ini sebagai panggung kebangkitan mereka.

Bagi Brasil, Piala Dunia 1950 bukan sekadar kompetisi. Ini adalah mimpi sebuah bangsa.

Tim nasional Brasil saat itu tampil luar biasa. Dengan permainan menyerang yang menghibur, mereka menghancurkan lawan-lawannya dan membuat jutaan pendukung yakin bahwa gelar juara dunia pertama sudah berada di tangan. Stadion Maracanã di Rio de Janeiro pun berubah menjadi simbol harapan. Ribuan orang datang bukan hanya untuk menonton pertandingan, tetapi untuk menyaksikan lahirnya sejarah.

Di balik mimpi besar itu, berdiri seorang penjaga gawang bernama Moacir Barbosa.

Barbosa bukan kiper biasa. Sebelum Piala Dunia 1950, ia dikenal sebagai salah satu penjaga gawang terbaik Brasil. Ia memiliki refleks cepat, keberanian dalam duel satu lawan satu, dan kemampuan memimpin pertahanan. Banyak yang menganggapnya sebagai salah satu kiper paling berbakat pada masanya.

Namun sepak bola terkadang memiliki sisi yang kejam. Satu momen dapat mengubah bagaimana seseorang dikenang selamanya.

Pada 16 Juli 1950, Brasil menghadapi Uruguay dalam pertandingan terakhir babak final grup. Brasil hanya membutuhkan hasil imbang untuk menjadi juara dunia. Stadion Maracanã dipenuhi lebih dari 170 ribu penonton yang sudah bersiap merayakan pesta kemenangan.

Babak pertama berakhir tanpa gol. Kemudian pada awal babak kedua, Brasil mencetak gol melalui Friaça. Suara kegembiraan memenuhi stadion. Semua orang yakin trofi Piala Dunia akan menjadi milik mereka. Tetapi Uruguay bangkit. Juan Alberto Schiaffino menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Tekanan mulai terasa. Brasil yang sebelumnya bermain penuh percaya diri mulai kehilangan ketenangan.

Lalu datanglah menit ke-79 yang mengubah hidup Barbosa. Alcides Ghiggia menerima bola di sisi kanan lapangan. Ia bergerak melewati pertahanan Brasil dan melepaskan tembakan ke arah gawang. Barbosa bergerak untuk menutup sudut, tetapi bola melewati dirinya dan masuk ke gawang. Uruguay unggul 2-1.

Peluit akhir pertandingan membawa kesunyian yang sulit digambarkan. Stadion yang sebelumnya bergemuruh berubah menjadi tempat penuh kekecewaan. Brasil gagal menjadi juara di hadapan pendukungnya sendiri. Kekalahan itu kemudian dikenal sebagai "Maracanazo", tragedi terbesar dalam sejarah sepak bola Brasil. (Bersambung)

 

 

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
9 jam yang lalu
Ekonomi Melampaui Ekspektasi, Mirae Asset Soroti Sikap Selektif Investor
Meski IHSG kembali menguat, reli pasar dinilai belum sepenuhnya didukung oleh saham-saham berfundamental besar maupun arus masuk investor asing."IHSG memang melanjutkan penguatan, tetapi kualitas reli masih terbatas.
 
Nasional
10 jam yang lalu
Pertumbuhan ekonomi: Rilis data PDB domestik kuartal II 2026 berada di atas perkiraan pasar.
Pergerakan pasar didominasi saham yang menguat. Tercatat 296 saham naik, 87 saham turun, dan 580 saham tidak mengalami perubahan harga.
 
Nasional
10 jam yang lalu
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29% pada Triwulan II-2026, Semester I Catat Pertumbuhan Tertinggi dalam 5 Tahun
Capaian tersebut diraih di tengah perekonomian global yang bergerak dalam arus silang antara tekanan konflik global dan akselerasi teknologi, dengan pertumbuhan ekonomi dunia yang diproyeksikan International Monetary Fund (IMF) hanya sebesar 3,0%.
 
Nasional
10 jam yang lalu
Panduan Praktis Mengganti Atap Asbes Menjadi Genteng Secara Aman
Langkah strategis ini diambil sebagai respons aktif terhadap imbauan kesehatan global mengenai risiko jangka panjang penggunaan asbes.
 
Nasional
05/08/2026 18:53 WIB
Transformasi Digital Kampus, BTN dan UNDIP Resmi Luncurkan KTM Co-Branding untuk 17.000 Mahasiswa Baru
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus memperkuat peran aktifnya dalam membangun sumber daya manusia (SDM) unggul demi menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
 
Nasional
05/08/2026 15:23 WIB
Sequis Life Perkuat Kapasitas Peserta Sequis SHEPRENEUR Lewat Financial Check-Up dan Personal Branding
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan ketatnya persaingan bisnis, perempuan wirausaha perlu memiliki kemampuan mengelola.
 
Nasional
05/08/2026 10:53 WIB
Titik Masalah Pemadaman Listrik Wilayah Kalimantan Terjadi Akibat Proses Pemeliharaan jaringan PLN
Bahlil menjelaskan bahwa pemadaman di beberapa titik, khususnya wilayah Kalimantan, terjadi akibat proses pemeliharaan jaringan oleh PLN.
Ad Placholder