Fery Pradolo
Selasa, 20 Januari 2026 - 08:11 WIB

Pensiun Gak Susah, Ini Strategi DBS Hadapi Lonjakan Penduduk Lansia Indonesia

Pensiun Gak Susah, Ini Strategi DBS Hadapi Lonjakan Penduduk Lansia Indonesia
Pensiun Gak Susah, Ini Strategi DBS Hadapi Lonjakan Penduduk Lansia Indonesia
Dummy

ECONOMIC ZONE - Fenomena penuaan penduduk kini menjadi tantangan nyata di kawasan Asia, termasuk Indonesia yang masih berada pada tahap awal kesiapan pensiun, sementara perubahan demografi berlangsung semakin cepat. Menanggapi situasi tersebut, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation meluncurkan kampanye “Pensiun Gak Susah”, sebuah inisiatif yang mendorong masyarakat untuk merencanakan masa depan sejak dini agar dapat menikmati kehidupan pensiun yang berkualitas, sejahtera, dan bermakna.

Urgensi persiapan ini semakin terlihat dari proyeksi perubahan struktur penduduk Indonesia dalam dua dekade mendatang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada 2035 lebih dari 14 persen penduduk Indonesia akan berusia di atas 60 tahun. Angka ini diperkirakan terus meningkat hingga mencapai 20 persen atau sekitar 63 juta jiwa pada 2045. Pergeseran ini menandai berakhirnya bonus demografi secara bertahap dan menegaskan perlunya kesiapan ekosistem, kebijakan, serta infrastruktur yang mendukung proses penuaan yang sehat, inklusif, dan produktif. Dengan dukungan yang tepat, kelompok lanjut usia tetap dapat berperan aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Sejalan dengan aspirasi Best Bank for a Better World, DBS Foundation secara konsisten menjadikan isu ageing societysebagai salah satu fokus utama. Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa peningkatan usia harapan hidup harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas hidup, sehingga setiap individu dapat menjalani proses menua secara bermartabat, berdaya, dan penuh makna.

Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, menegaskan bahwa perubahan demografi menuntut perubahan cara pandang dalam mempersiapkan masa depan. Ia menyampaikan bahwa pensiun tidak lagi dapat diposisikan sebagai fase akhir yang dipikirkan belakangan, melainkan sebagai bagian penting dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan. Sebagai purpose-driven bank, Bank DBS Indonesia berkomitmen memberdayakan populasi menua melalui penyediaan panduan dan wawasan menyeluruh agar masyarakat dapat merencanakan pensiun secara holistik dan menikmati hidup yang bermakna di setiap fase usia.

Sebagai bagian dari kampanye tersebut, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator sebagai referensi awal untuk membantu masyarakat merencanakan kebutuhan pensiun secara lebih terstruktur. Alat ini membantu individu memahami gambaran kebutuhan finansial di masa depan, tidak hanya mencakup kebutuhan dasar, tetapi juga gaya hidup yang ingin dipertahankan saat memasuki usia pensiun. Sejalan dengan misi Live more, Bank less, kehadiran kalkulator ini mencerminkan komitmen Bank DBS Indonesia dalam menyederhanakan proses perencanaan keuangan yang kerap terasa kompleks, sehingga masyarakat dapat lebih fokus menikmati hidup dan menatap masa depan dengan lebih tenang serta percaya diri.

Sebagai ilustrasi, Reza yang kini berusia 30 tahun berencana pensiun pada usia 55 tahun dengan estimasi usia harapan hidup hingga 71 tahun. Saat ini, ia memiliki total deposito sebesar Rp10.000.000 dan investasi senilai Rp15.000.000, dengan rata-rata imbal hasil tahunan 5,57 persen. Reza juga menyisihkan dana tabungan sebesar Rp3.000.000 setiap bulan. Dari sisi pengeluaran, kebutuhan dasarnya mencapai Rp13.000.000 per bulan, sementara kebutuhan lainnya sekitar Rp7.500.000.

Dengan estimasi kebutuhan pensiun sebesar Rp19.500.000 per bulan dalam nilai saat ini dan masa pensiun selama 16 tahun, Reza membutuhkan dana sekitar Rp2.521.591.343 atau setara Rp19.666.667 per bulan. Perhitungan ini telah memperhitungkan asumsi inflasi sebesar 3,1 persen dan imbal hasil investasi tahunan rata-rata 5,57 persen, serta mencakup kebutuhan dasar seperti makanan, utilitas, dan belanja rutin, termasuk kebutuhan tambahan seperti pakaian, olahraga, dan liburan.

Namun demikian, kesiapan pensiun tidak semata-mata ditentukan oleh kecukupan dana. Masa pensiun juga membawa perubahan besar dalam rutinitas, peran sosial, dan tujuan hidup. Tanpa perencanaan yang matang, transisi menuju fase ini sering kali terasa mengejutkan dan menantang. Oleh karena itu, memahami kebutuhan dan ekspektasi sejak dini menjadi langkah penting agar masa pensiun dapat dijalani sebagai fase kehidupan yang tetap aktif, bermakna, dan produktif.

Founder & CEO sekaligus Lead Financial Trainer QM Financial, Ligwina Hananto, menuturkan bahwa banyak orang menunda perencanaan pensiun sambil menunggu kondisi yang dianggap ideal, seperti penghasilan stabil atau tanggungan yang berkurang. Padahal, perencanaan pensiun tidak menuntut kondisi sempurna, melainkan konsistensi. Ia menekankan bahwa keputusan paling penting adalah memulai sedini mungkin dengan pendekatan yang relevan terhadap kondisi saat ini, agar strategi yang dibangun tetap adaptif mengikuti perubahan fase hidup. Salah satu pendekatan praktis yang dapat diterapkan adalah pembagian pos pengeluaran 10/20/30/40, yaitu minimal 10 persen untuk tabungan atau investasi, maksimal 20 persen untuk gaya hidup, maksimal 30 persen untuk cicilan, dan 40 persen untuk kebutuhan rutin.

Memasuki usia pensiun, ketenangan, rasa aman, dan kualitas hidup menjadi prioritas utama. Perencanaan yang matang menegaskan bahwa menumbuhkan dana saja tidak cukup tanpa perlindungan yang memadai, terutama di tengah meningkatnya ketidakpastian dan tantangan hidup.

Head of Investment & Insurance Products Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, Djoko Sulistyo, menyampaikan bahwa kombinasi investasi yang tepat dan perlindungan asuransi memungkinkan nasabah menjaga daya beli dan aset, memperoleh ketenangan pikiran, serta tetap mandiri di usia lanjut. Sebagai mitra tepercaya dalam pengelolaan kekayaan, Bank DBS Indonesia berkomitmen mendampingi nasabah di setiap fase kehidupan melalui solusi perbankan yang mendukung kesiapan pensiun.

Urgensi perencanaan pensiun yang menyeluruh juga tercermin dari tren demografi global. Riset CIO Insights bertajuk “Ekonomi Umur Panjang” mencatat bahwa usia harapan hidup manusia meningkat drastis, dari sekitar 40 tahun pada 1900 menjadi lebih dari 74 tahun saat ini. Peningkatan ini mendorong lonjakan kebutuhan layanan kesehatan, sistem pensiun yang lebih matang, serta pengeluaran terkait penyakit usia lanjut. Pada saat yang sama, tren ini membuka peluang besar bagi pengembangan silver economy, yakni aktivitas ekonomi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan sekaligus pemberdayaan kelompok lansia.

Ekosistem silver economy mencakup berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan, perumahan, dan transportasi, hingga teknologi dan gaya hidup yang dirancang untuk meningkatkan kualitas hidup lansia. Didukung kemajuan teknologi medis, meningkatnya aliran modal, dan tren penuaan populasi yang kian nyata, ekonomi lansia kini berada pada titik infleksi. Dengan potensi pasar bernilai triliunan dolar, sektor ini menawarkan peluang investasi yang semakin strategis dan relevan di masa depan.

Dummy

Komentar

Dummy

Berita Lainnya

 
Nasional
20 jam yang lalu
XLSMART Kolaborasi dengan Google Hadirkan Akses Paket Plus Google Gemini 6 Bulan Untuk Pelanggan XL, AXIS, dan SMARTFREN
Melalui kolaborasi dengan Google Gemini, XLSMART menghadirkan akses Paket Plus Google Gemini selama 6 bulan bagi pelanggan prabayar XL, AXIS, dan SMARTFREN melalui pembelian paket internet tertentu, untuk mendukung aktivitas belajar, bekerja, berkarya, dan produktivitas digital sehari-hari.
 
Nasional
21/07/2026 12:46 WIB
BNI Raih Penghargaan Bank UMKM dan Trade Finance Terbaik
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI meraih dua penghargaan internasional dalam ajang AlphaSEA–20th Best Financial Institution Awards 2026. Perseroan dinobatkan sebagai Best SME Bank in Indonesia dan Best Trade Finance Bank in Indonesia.
 
Nasional
20/07/2026 18:15 WIB
De la Fuente Sebut Spanyol Layak Menang Lebih Cepat, Puji Skuat Matador yang Kompak bak Keluarga
Luis de la Fuente bangga Spanyol juara Piala Dunia 2026 usai tekuk Argentina. Dia memuji mentalitas skuat Matador yang kompak bak keluarga.
 
Nasional
20/07/2026 16:02 WIB
Sukses Rehabilitasi, Empat Orangutan Sumatera Akan Dilepasliarkan ke Hutan Jambi
Keberadaan Orangutan Haven melengkapi upaya konservasi orangutan di Indonesia.
 
Nasional
20/07/2026 15:46 WIB
Kementerian Kehutanan Kerahkan Strategi Lintas Wilayah Antisipasi Karhutla Puncak Musim Kemarau 2026
Lima provinsi dengan luas karhutla terbesar berturut-turut adalah Kalimantan Barat (28.680,47 hektare), Riau (15.477,95 hektare), Nusa Tenggara Timur (10.538,30 hektare), Maluku (7.091,07 hektare), dan Papua Selatan (6.281,81 hektare).
 
Nasional
20/07/2026 14:53 WIB
Bank Jakarta Resmikan New Look Branch KCP Kebayoran Park, Hadirkan Wajah Baru yang Lebih Modern
Bank Jakarta resmi menghadirkan New Look Branch pada Kantor Cabang Pembantu (KCP) Kebayoran Park sebagai bagian dari transformasi perusahaan dalam menghadirkan layanan perbankan yang modern, nyaman, dan berorientasi pada kebutuhan nasabah
 
Nasional
20/07/2026 14:32 WIB
BNI Borong Enam Penghargaan Digital CX Awards 2026
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI meraih enam penghargaan dalam ajang Digital CX Awards 2026
Ad Placholder