ECONOMIC ZONE - Dalam era modern saat ini, generasi milenial tidak perlu takut ataupun khawatir tak memiliki rumah. Meskipun saat ini hampir seluruh masyarakat Indonesia sedang mengalami penurunan pendapatan yang disebabkan oleh pandemi Covid-19, namun tidak serta merta membuat generasi milenial kehilangan kreativitas untuk tetap mencari pemasukan dari cara lain.
Kemajuan teknologi membuat peluang kerja ataupun peluang bisnis yang bisa dilakukan generasi muda di berbagai platform media sosial terbuka lebar. Hal tersebut memacu para kaum milenial untuk bekerja keras, agar bisa memiliki aset yang dapat di manfaatkan nantinya.
Tidak sedikit kalangan muda di masyarakat menjadikan pandemi Covid-19 saat ini sebagai pelajaran, bahwa memiliki aset itu penting bagi masa depan mereka. Salah satu aset yang mulai banyak dicari generasi milenial adalah memiliki hunian dengan cara Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Bank Tabungan Negara (BTN).
Ketua Umum (Ketum) Real Estate Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida menerangkan, sebelum masa pandemi Covid-19, pangsa pasar generasi milenial (usia 20-45) terhadap ketertarikan memiliki rumah KPR berada di angka 60 persen.
“Presentase tersebut kita rekap dan kita update terus setiap bulan ataupun triwulan yang dilakukan oleh REI dan Bank Indonesia, tentunya agar bisa kita lakukan evaluasi kedepannya,” terang Paulus Totok Lusida saat dihubungi Economiczone.id, Minggu (31/1/2021).
Namun kondisi tersebut berubah sejak, Pemerintah menerapkan kondisi new normal sejak bulan Juni hingga Desember 2020 lalu. Generasi milenial justru mengambil pangsa pasar dari seluruh hunian hingga 82,3 persen.
”Kenaikan presentase ini sangat luar biasa, sehingga kami selalu menjaga konsistensi minat para milenial tersebut,” ujar pria yang biasa disapa Totok Lusida tersebut.
Totok Lusida mengatakan, Desain dan Lay Out pembangunan rumah-rumah KPR saat ini, disesuaikan dengan kondisi selama masa pandemi Covid-19, agar membuat nyaman para penghuni rumah tersebut.
“Fasilitas-fasilitas perumahan yang kami berikan dimasa pandemi saat ini ialah, kami lebih memperhatikan sirkulasi aliran udara, dan desain rumah yang praktis agar lebih mudah dibersihkan pemiliknya, sehingga membuat rumah lebih sehat bagi para penghuninya,” kata Totok Lusida.
Akan tetapi, lanjut Totok Lusida, tidak ada alokasi anggaran berupa dana dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang diberikan Pemerintah kepada bidang properti khususnya perumahan KPR, untuk membantu kaum milenial agar mendapat potongan harga rumah yang mereka inginkan.
“Pemerintah memberikan opsi lain atau stimulus, guna membantu meringankan beban milenial memiliki rumah KPR. Seperti, Relaksasi Pajak, Restrukturisasi dari pihak Bank juga diperpanjang,” lanjutnya.
Menanggapi hal tersebut, Theresia yang merupakan salah satu generasi milenial yang sudah menjalani akad KPR sejak November 2019 lalu menyampaikan, bahwa masyarakat pembeli hunian tersebut akan merasa sangat terbantu dengan adanya stimulus yang diberikan Pemerintah berupa Relaksasi Pajak.
“Dengan memberikan potongan pajak kepada para nasabah selama masa pandemi ini, maka hal tersebut akan terasa meringankan beban bagi kami para milenial yang membeli KPR rumah tersebut,” ucap Theresia saat di temui Economiczone.id, di Sepatan, Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (1/2/2021).
Ia juga mengharapkan kepada Pemerintah, agar stimulus yang diberikan berupa Relaksasi Pajak dan juga Restrukturisasi dari pihak Bank yang diperpanjang, dapat dinikmati bagi nasabah yang sudah melaksanakan akad KPR sebelum masa pandemi Covid-19 dimulai.
“Kami juga mengharapkan kepada Pemerintah, bahwasanya kami nasabah yang lebih dulu 1 sampai 6 bulan yang sudah melaksanakan akad KPR sebelum masa pandemi Covid-19, agar ikut juga menerima stimulus yang diterapkan Pemerintah. Sebab, dengan adanya pandemi ini, dampaknya ialah pendapatan kami pun ikut berkurang,” tambah Theresia.
Sementara itu, Pengamat Perumahan Jaka Prasetya menuturkan, generasi milenial umumnya membeli rumah KPR dengan tipe 45/70 dengan kisaran harga 300-400 juta. Namun, tidak sedikit juga generasi milenial yang memiliki penghasilan lebih, dan memilih rumah hunian tipe 72 dengan luas tanah 200 meter.
“Secara keseluruhan, rumah yang diminati generasi milenial ialah rumah-rumah dengan tipe 45/70 dan 70/90 dengan range harga 300 juta sampai satu milyar, dan berada di daerah sekitar Ibu Kota, yaitu di Tangerang Selatan, Depok dan Bekasi,” tutur Jaka Prasetya, saat dikonfirmasi Economiczone.id, Minggu (31/1/2021).
Jaka Prasetya juga memaparkan sistem transaksi pembayaran yang biasa dilakukan milenial sebelum dan saat masa pandemi Covid-19. Sebelum masa pandemi, milenial yang melakukan membeli hunian dengan sistem KPR maupun Kredit Pemilikan Apartemen (KPA) sekitar 90 persen, 5 persen pembeli dengan cara In House (membeli langsung rumah KPR ke pihak Developer), dan 5 persen sisanya dengan transaksi pembayaran tunai (cash).
“Dalam kondisi new normal saat ini, milenial yang membeli rumah dengan sistem KPR menurun, dengan kisaran 56 persen, 30 persen In House, dan sisanya membeli dengan cash,” papar Jaka yang juga menjabat sebagai Direktur Wiyasa Indonesia tersebut.
Melihat sambutan positif dari generasi milenial tersebut, Wakil Menteri (Wamen) II Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo optimis bisnis bank BTN yang berpusat pada bisnis pembiayaan perumahan dapat berjalan dengan baik, asalkan tekun menangkap aliran transaksi dalam ekosistem perumahan.
“Namun saya menekankan, untuk Current Account and Saving Account atau CASA dimana Bank BTN menargetkan sekitar Rp270 triliun pada road map, untuk itu transformasi cabang untuk menggalang CASA agar bisa mendapatkan funding flow yang sehat dengan cost yang lebih murah harus ditingkatkan. Jika kredit, CASA (dana murah) dan transaksi jalan, benar-benar BTN dapat tumbuh berkembang sehat dengan profitabilitas yang baik,” jelas Kartika saat Rapat Kerja Nasional BTN 2021 bertajuk “Transformation to Achieve Sustainable Growth” di Jakarta, Kamis (28/1/2021).
Kartika mengakui modal Bank BTN cukup kuat dalam bertahan dan survive dengan bertahan di sektor pembiayaan properti tanpa perlu berubah menjadi bank yang universal. Berdasarkan kajian detail, ternyata pertumbuhan segmen perumahan dan customer based yang bisa digarap dari value chain perumahan, Bank BTN bisa tumbuh dan besar serta menjadi bank yang sehat dengan kapitalisasi pasar yang besar.
Selain itu, ia juga menilai kekuatan Bank BTN pada pembiayaan properti harus tetap diperluas pada ekosistem value chain mortgage maupun customer based. Integrasi antara mortgage driven growth dikaitkan dengan ekosistem mortgage akan membuat customer based yang stabil juga ekosistem dari developernya.
“Dalam periode recovery ini, selain memperbaiki kualitas kredit dan funding, bagaimana kita juga bisa membangun transaction business yang kuat dimulai dari value chain mortgage yang menjadi core competence dari Bank BTN,” tutup Kartika.
Komentar