ECONOMIC ZONE - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global dan ketidakpastian geopolitik.
Dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan pada 30 September 2026, OJK menyebut perekonomian global menghadapi tantangan berupa kenaikan inflasi, eskalasi konflik geopolitik, kenaikan harga minyak, serta risiko very strong El Nino terhadap harga pangan dan komoditas pertanian.
"Tekanan inflasi tersebut mendorong kebijakan suku bunga global bertahan pada level tinggi (higher for longer). Imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara juga meningkat dan mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade", tutur Kepala Otoritas Jasa Keuangan Friderica Widyasari Dewi dalam jumpa pers Rapat Dewan Komisioner OJK, Senin (5/10/2026).
Di dalam negeri, kondisi ekonomi dinilai relatif stabil. Inflasi masih terjaga sesuai target pemerintah, sehingga konsumsi dan permintaan domestik tetap kuat. OECD juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 sebesar 0,5 persen.
OJK menilai kondisi tersebut turut ditopang fundamental industri jasa keuangan yang solid serta peran sektor keuangan yang terus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
OJK akan terus memperkuat pengawasan dan mengambil kebijakan untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi.
IHSG September Terkoreksi Hampir 7%
Pasar saham domestik menghadapi tekanan sepanjang September 2026 seiring meningkatnya volatilitas pasar keuangan global akibat eskalasi geopolitik dan kenaikan suku bunga.
OJK mencatat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 6.071,14 pada akhir September 2026, turun 6,96 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dan terkoreksi 29,79 persen secara year-to-date (ytd).
Investor asing juga mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp10,24 triliun pada September, berbalik dari Agustus yang masih mencatat net buy Rp1,19 triliun.
Meski demikian, likuiditas pasar saham dinilai masih terjaga. Rata-rata bid-ask spread tercatat 1,20 persen, relatif stabil dari 1,17 persen pada Agustus. Sementara rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) mencapai Rp14,94 triliun.
Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) berada di level 439,05 atau turun 0,23 persen secara bulanan. Yield Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata meningkat 14,12 basis poin.
OJK juga mencatat investor asing membukukan net sell terbatas Rp340 miliar di pasar SBN, sementara pasar EBUS korporasi mencatat net buy Rp910 miliar.
Di tengah tekanan pasar, jumlah investor domestik terus meningkat. Hingga September 2026, jumlah investor pasar modal mencapai 32,17 juta atau tumbuh 57,96 persen secara ytd. (nck)
Komentar